http://www.emocutez.com

Senin, 03 September 2012

Kuliah juga..

Hiiiiiiatttttttttt.....
Kembali lagi dgn saya. Sudah lama ga ngpost *pdhal mmang jrang ngpost hahaha..
Eum, smua tahu kuliah kan?
Tanggal 3sept kmarin, hari prtamaku kuliah..
yah..yah..yah.. trnyata begini yang namnya kuliah, gak sperti SMA. klo kuliah, ke kampusnya cuma pada jam masuk saja. Beda sama yang SMA yang ke sekolah pagi-siang.
Klo kuliah, ga ada dosen, kitanya bisa pulang. Lah, klo SMA ga ada guru, bisa pulang juga *tapi siap-siap aja di lempar pake sapu ma gurunya ya haha..
Pertama masuk kuliah, pasti ada yang lirik (buat jadi gebetan) salah satu kakak tingkatnya. haha itu sih sudah biasa. Tapi, klo boleh jujur sih, aku ga gitu yah, karena aku sedang menjalani LDR dgan seseorang. Jadi harus selingkuh  setia *suit-suit curcol ya hahaha..
Hari ini, ini aja deh yang ku ceritakan. Soalnya aku ngpostnya pake lepi kawanku *ga bermodal banget ya hahahaha..

Minggu, 05 Agustus 2012

struggle for life and death


 
“Pokoknya gue yang bawa motor hari ini...”, bentak Dyland.
“Nggak!! Pokoknya gue yang bawa motor hari ini!”sambung Putra. 
Putra adalah kakaknya Dyland, dan mereka memiliki adik yang bernama Gita. Seperti  biasa, adiknya  hanya  bisa melihat mereka begitu setiap hari. Akhirnya perdebatan pun selesai, Dyland lah yang membawa motor. 
Dyland terkenal  sebagai  anak  yang pandai bergaul. Tetapi  karena  pergaulannya itu juga, ia sering mencemaskan orang-orang di sekitarnya. Yah, seperti biasanya ia pulang malam lagi. Diam-diam Dyland membuka pintu tapi ternyata kakaknya belum tidur dan menunggunya pulang di ruang tamu.
“Dari mana loe? Jam segini baru pulang!” terdengar suara kakaknya sambil menunjuk jam yang menunjukkan pukul 02.00 a.m.
“Bukan urusanmu!! Urusin aja urusanmu sendiri.” Jawab Dyland sambil membanting pintu kamarnya. Dyland tidak mau berlama-lama di ruang tamu, karena tidak penting baginya mendengarkan ocehan Putra. Saking kecapekannya, Dyland pun lupa kalau dia lupa makan malam dan langsung saja tidur.
***
            Esok paginya, Dyland tidak keluar dari kamarnya. 
“Tok..Tok..Tok..”, terdengar suara ketokan pintu. 
“Kak.., bangun..Udah pagi. Sarapan dulu, kak.” teriak Gita dari luar kamar. 
Gita terus berteriak untuk membangunkan Dyland. Gita mencoba membuka pintu tersebut, dan ternyata pintunya tidak dikunci. Matanya langsung tertuju ke tempat tidur dan melihat kakaknya yang merintih kesakitan. Lalu menanyakan apa yang terjadi.
“Kak, kakak kenapa?”
“Sakit banget, Git." tampak kedua  tangannya memegang perutnya.
“Trus gimana kak?” tanya Gita. 
“Papa...” teriak Gita.
“Ada apa teriak-teriak?” sahut Papanya mendatangi kamar itu. 
“Kakak sakit, Pa” jawab Gita.
“Hah? Yasudah, Papa bawa kak Dylan ke rumah sakit sekarang. Gita sama Kak Putra bisa siapkan sarapan sendiri kan?” kata Papanya sambil menopang pelan tubuh Dyland.
“Bisa, Pa.” Jawab Gita. Mereka sudah terbiasa mempersiapkan sarapan sendiri, karena ibu mereka ditugaskan bekerja di luar kota.
***
Sepulang dari sekolah, Gita melihat rumahnya sepi dan tidak ada seorang pun di sana. Ia teriak-teriak, tetapi tidak ada yang menyahut. Lalu, Gita menelepon  Putra. “Halo..Kak. Kakak dimana?” tanya Gita.
“Kakak di rumah sakit,dek. Kami semua di rumah sakit. Dyland opname di rumah sakit.” Jawab kakaknya.
“Hah? Masak sih kak? Gita ke sana ya kak.” Sambung Gita sambil menutup teleponnya.
Sampai di rumah sakit, Gina pun menangis melihat keadaan Dyland yang terbaring lesu di tempat tidur. Mengingat Dyland juga pernah di rawat di rumah sakit karena penyakit usus buntu. Dan ternyata, selama ini Dyland jarang makan malam sehingga penyakit yang sama menyerang tubuh Dyland lagi.
“Haha kenapa loe dek? Datang-datang nangis. Jangan nangis di depan kakak mu yang ganteng ini dunk.” Ucap Dyland seakan-akan ia sehat. 
Gita tetap saja menangis, ia tahu Dyland berkata begitu agar ia tidak mengkhawatirkan keadaan Dyland. 
“Jelek loe.. Masih aja kakak sok sehat.” Sambar Gita.
Esoknya, orangtuanya dipanggil Dokter yang merawat Dyland dan mengatakan Dyland harus dioperasi secepatnya. Lalu orangtuanya pun menceritakan hal itu pada Dyland. Dan Dyland pun setuju untuk dioperasi. Malamnya mereka sekeluarga berdoa agar operasi besok dapat berjalan dengan lancar.
***
            Tibalah saatnya Dyland dioperasi. Semua keluarganya menunggunya di luar ruang operasi dan berharap kabar sukacita lah yang datang nantinya. Setelah beberapa jam berlalu, selesai lah pengoperasian itu, dan doa mereka terkabulkan. Operasinya berjalan dengan lancar.
            Setelah operasi selesai, ia tidak sadarkan diri dan mengigau memanggil-manggil nama orang-orang yang disayanginya. Berawal dari keluarganya hingga pacar dan teman-temannya.
            Beberapa hari kemudian, karena keadaannya sudah mendingan, ia pun di pindahkan ke ruangan. Hari berganti hari, beberapa bulan pun terlewati nampaknya luka bekas operasinya tidak sembuh juga. Sepertinya, Rumah Sakit tempat Dyland di rawat tidak memberikan pelayanan yang kurang baik. Dan tidak sabar lagi dengan rumah sakit tersebut, akhirnya Dyland pun dipindahkan ke rumah sakit yang lain.
***
            Nampaknya rumah sakit yang baru, membuatnya nyaman.  Tak satu pun temannya mengetahui Dyland di rawat di rumah sakit tak terkekuali pacarnya. Bukan karena teman-temannya cuek padanya melainkan ia tidak mau teman-temannya tahu bahwa ia sedang sakit. Ia tidak mau dianggap lemah.
           Sampai pada suatu hari pacarnya mencoba menghubunginya, tetapi yang mengangkat teleponnya bukanlah dia melainkan adiknya, Gita.
“Haloo..” kata Sinta pacarnya.
“Halo.. Ni siapa ya?” kata Gita
“Ni temannya Dyland. Dyland nya ada?” jawab Sinta sambil menyembunyikan statusnya sebagai pacarnya Dyland.
“Ehmm... Kak Dyland sakit kak. Sekarang di rawat di rumahsakit.” 
“Apa?! Sejak kapan Dyland masuk rumah sakit? Rumah sakit mana?” Tanya Sinta berulang-ulang.
“Udah lama kak. Nanti Gita sms kan dimana rumah sakitnya kak.” Jawab Gina
“Oh, yaudah.. Sms kan sama nomor kamarnya ya dek. Makasi dek.”  Kata Sinta
“Iya kak..” jawab Gita sambil menutup telepon.
***
            Siangnya, teman-teman dan pacarnya datang ke rumah sakit itu dan melihat keadaan Dyland.
“Dyland, apa kabar loe? Kok gak kasih kabar sih...” kata seorang temannya.
“Baik-baik aja aku loh. Kenapa? Kalian kangen sama gue?” elak Dyland dengan mata berkaca-kaca.
“Ntah ni.. Dah jadi janda gue selama loe gak ada.” Sambar Sinta manja.
“hahhaha.. Ada-ada aja loe bebh..” kata Dyland sambil tertawa dengan teman-temannya.
Sejak mereka menjenguk Dyland, semakin bertambahlah semangat Dyland untuk sembuh.
Dan beberapa hari kemudian, Dyland pun pulih dari sakitnya dan sudah bisa pulang ke rumahnya.

***
“Horee...” teriak Gita.
“Kenapa loe? Gimana? Bisa tadi loe jawab soalnya?” tanya Dyland kepada Gita yang sedang bergembira karena bisa menjawab soal-soal UN.
“Bisa dunk kak. Hari pertama aja bisa, apalagi hari selanjutnya. Ehmm.. kecil... hehe..” kata Gita sambil mengacungkan jari kelingkingnya. 
“Jiagh... sombong.. Bagus lah kalo gitu. Bagus-baguslah jawab soal-soal UN-mu itu. Biar bisa buat mama bangga.” Kata Dyland
“Seep kak..”
***
            Dyland kembali termenung dan melihat motor kesayangannya. Lalu mendekatinya dan mencoba menghidupkannya. Kemudian, terlintas di kepalanya ide ekstrem untuk mengendarai motornya itu. Waktu itu, kedua orangtuanya sedang tidak di rumah, sedangkan Gita dan Putra sedang tidur siang. Tiba-tiba Gita terbangun dan melarang Dyland agar tetap di rumah karena Gita tahu bahwa kondisi Dyland belum sehat betul.
            Tetapi Dyland tetap pada pendiriannya bahkan melarang Gita untuk tidak bicara tentang hal ini kepada Putra. Gita hanya bisa terduduk di kursi sambil memikirkan apa yang harus dikatakannya kepada Putra bila Putra menyadari bahwa Dyland tidak ada di rumah.
            Tak lama kemudian Putra bangun dari tidurnya. Dan menanyakan keberadaan Dyland.
“Mana Dyland, Git?” tanya Putra. 
Gita hanya bisa diam. Lalu Putra langsung berlari ke garasi rumah mereka dan melihat motornya sudah tidak ad lagi di sana.
“ARGGH... Bakalan dimarahi Bos nih gue.” Kata Putra kesal karena ia tidak dapat menjaga adiknya.
***
            Beberapa jam kemudian, terdengar suara motor dari luar. Ternyata Dyland sudah pulang ke rumahnya.
“Dari mana aja loe? Dah merasa sehat?? Cari mati loe, yah??! Jangan salahkan gue, kalau ada apa-apa samamu yah.” Kata-kata itu tidak sengaja terlontar dari mulut Putra karena saking kesalnya pada Dyland.
            Beberapa hari kemudian, Dyland mengeluh kepada orangtuanya bahwa perutnya akhir-akhir ini sering sakit. Pada saat itu pula, Putra tidak sengaja mendengar keluhan Dyland dan mengadukan peristiwa kemarin kepada orangtuanya. Tetapi, orangtua mereka tidak dapat marah karena hal itu sudah berlalu.
Lalu karena tak tahan merasakan sakit, Dyland langsung dibawa ke rumah sakit. Dan sesampainya di rumah sakit itu, ia hanya dapat menyesali semuanya dan menangisi dirinya. Dan dirinya menjadi sangat sensitif, apabila seseorang melakukan kesalahan terhadap dirinya.
***
Sepulang dari les biola, Gita berinisiatif untuk ke rumah sakit. Gita melihat kakaknya sedang termenung, sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
“Gimana keadaan kakak?” tanya Gita.
 Tetapi Dyland tidak menyahut.
“Kok diam aja sih? Tanya Gita lagi.
Dyland mulai menjawab pertanyaan Gita.
“Aku dah takut, Git.”
“Maksudnya?” Gita bingung.
Lalu seketika suasana menjadi hening. Dan membuat Gita mengerti perkataan Dyland.
“Kakak harus semangat ya.” Ucap Gita dengan menahan air matanya.
“Hmm ya.. Git, kakak boleh minta tolong gak?”
“Minta tolong apa, kak?” tanya Gita lagi.
“Nyanyikan lagu Bukan Dengan Barang Fana, Git.” Kata Dyland.
“Tapi Gita gak hafal-hafal banget, kak.  Tapi Gita coba ya, kak.” Kata Gita sambil mencoba menyanyikannya dengan biolanya. 
Suara Gita yang begitu lembut dan suara alunan biola yang dimainkannya membawa Dyland pada masa lampau. Ia teringat akan perbuatannya dan kesalahannya yang telah dilakukannya kepada orang- orang terdekatnya. Ia menyadari perbuatannya itu hanya bisa menyakiti mereka yang disayanginya.  Dan dengan nada yang pelan, Dyland mencoba ikut bernyanyi. Dan terlihat keharuan diantara mereka berdua. Tanpa disadari mereka menangis bersama-sama. Setelah capek menangis, akhirnya Dyland tertidur.
Malamnya, Dyland tampak sedih saat membuka hp-nya. Sepertinya, Ia baru saja diputuskan oleh pacarnya. Ia mencoba menghubungi pacarnya, tetapi tidak ada respon dari sang pacar. Ia merasa Tuhan itu tak peduli lagi padanya dan engambil semua darinya.
***
            Esoknya, Dyland kembali menjalankan operasi untuk ke sekian kalinya. Tetapi kali ini ia tidak bersemangat menjalaninya. Dan tak satupun dari keluarganya mengantarkannya ke ruang operasi karena mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Hal itu juga yang membuatnya bertambah sedih.
“Lengkaplah sudah penderitaanku. Kenapa kau berikan semua ini kepadaku, Tuhan.. Jika kau mau, ambil saja aku, agar aku tidak merepotkan mereka lagi.” kata Dyland dalam hatinya.
            Malamnya setelah semuanya sudah tidur. Dyland terbangun karena mendengar kedua orangtuanya membicarakan sesuatu. Nampaknya mereka telah kehabisan uang untuk membiayai perawatan Dyland. Mendengar itu semua, Dyland pun pasrah dengan keadaannya. Baginya dia hanya merepotkan orang-orang di sekitarnya. Dan ia menyuruh orangtua agar dia di suntik mati saja. Karena ia merasa sudah tidak ada gunanya lagi hidup di dunia yang fana ini. Orangtuanya terkejut mendengar Dyland berkata seperti itu, tetapi orangtuanya hanya bisa menyemangatinya.
***
            Esoknya Gita terlihat gembira karena baru saja ia mendapatkan surat yang menyatakan kelulusannya dan itu artinya akan lanjut ke jenjang selanjutnya.
“Muda banget wajah mu hari ni, Git. Lagi senang ya?” sindir Dyland.
“Iyee.. memang aku masih muda ya. Aku baru aja dapat surat kak dan katanya aku lulus.” Kata  Gita kegirangan.
“Iya? Masak sih Git? Selamat ja ya buat Gita. Kakak ikut senang ya Git.”kata Dyland.
“Makasi ya  atas ucapannya. Ehmm.. Gita harap kakak cepat sembuh yah kak. Gita mau kakak lihat Gita pake baju putih abu-abu.”
“Amin... Mudah-mudahan ya Git.” 
Mereka pun lama bincang-bincang tentang cita-cita yang ingin mereka raih. Siang berganti menjadi sore dan sore pun menjadi malam. Malam itu, entah mengapa mereka sekeluarga menangis namun tak saling tahu satu sama lain.
***
Esok paginya, badan Dyland tidak dapat menerima segala infus. Padahal, hanya melalui infus itu lah Dyland mendapatkan nutrisi. Lalu mereka berdoa bersama seperti yang biasa mereka lakukan. Pada waktu itu Dyland tak dapat lagi mengucapkan doa seperti biasanya dan ia merasa sesak di bagian dadanya. Tiba-tiba tangan dan sekujur tubuhnya berubah menjadi dingin.
Lalu ia menyuruh adiknya untuk membelikannya minuman kesukaannya. Mungkin ini permintaannya untuk terakhir kalinya. Dan ia pun meminumnya. Baru kali ini ia terlihat begitu menikmati minuman itu.
Tiba-tiba ia merasa sesak di dadanya semakin terasa dan sudah tak tertahankan lagi. Lalu ia segera dilarikan ke ruang I.C.U untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif. Tetapi sudah terlambat, ketika sampai di I.C.U ia pun telah meninggalkan dunia yang fana ini. Mungkin sudah waktunya Tuhan mengambilnya kembali dari keluarganya. Jerit dan tangis terdengar dari ruangan itu. Mereka hanya bisa menangis dan melihat garis lurus yang berada di mesin pendeteksi denyut jantung.
Apalagi adiknya, Gita tidak menyangka kakak yang disayanginya begitu cepat meninggalkannya. Sepertinya Gita sangat terpukul, sehingga ia jatuh pingsan dan tak sadarkan diri.
            Tak lama kemudian, tubuh yang pucat dan dingin itu dibawa ke ruang mayat untuk dibersihkan agar dapat di bawa pulang. Di perjalanan ke rumah, terdengar suara sirine yang sangat dibenci oleh sebagian orang. Putra kasihan melihat adiknya, yang belum bisa menerima kenyataan. Dan ia teringat akan janjinya pada Dyland. Sebelum Dyland meninggal, ia berbicara kepada Putra agar Putra menjaga Gita. Karena ia tahu adiknya masih sangat polos.
            Terlihat dari dalam mobil ambulans, sederetan orang menggunakan pakaian hitam yang sudah berkumpul di rumahnya. Mulailah berdatangan satu per satu papan bunga ucapan belasungkawa ke rumah keluarga itu.
            Esoknya tubuh yang kaku itu pun dimakamkan. Pemakaman itu disertai banyak airmata dan angin yang seakan-akan memberontak atas kepergian Dyland. Nampaknya perjuangan Dyland untuk hidup sangat menggugah perasaan mereka semua. Mungkin ini memang kehendak Tuhan...