“Pokoknya gue yang bawa motor hari ini...”,
bentak Dyland.
“Nggak!! Pokoknya gue yang bawa motor hari ini!”sambung Putra.
Putra
adalah kakaknya Dyland, dan mereka memiliki adik yang bernama Gita.
Seperti biasa, adiknya hanya
bisa melihat mereka begitu setiap hari. Akhirnya perdebatan pun selesai,
Dyland lah yang membawa motor.
Dyland terkenal
sebagai anak yang pandai bergaul. Tetapi karena
pergaulannya itu juga, ia sering mencemaskan orang-orang di sekitarnya. Yah,
seperti biasanya ia pulang malam lagi. Diam-diam Dyland membuka pintu tapi
ternyata kakaknya belum tidur dan menunggunya pulang di ruang tamu.
“Dari mana loe? Jam segini baru pulang!”
terdengar suara kakaknya sambil menunjuk jam yang menunjukkan pukul 02.00 a.m.
“Bukan urusanmu!! Urusin aja urusanmu sendiri.” Jawab Dyland sambil membanting
pintu kamarnya. Dyland tidak mau berlama-lama di ruang tamu, karena tidak penting
baginya mendengarkan ocehan Putra. Saking kecapekannya, Dyland pun lupa kalau
dia lupa makan malam dan langsung saja tidur.
***
Esok paginya, Dyland tidak keluar dari kamarnya.
“Tok..Tok..Tok..”, terdengar suara ketokan pintu.
“Kak.., bangun..Udah pagi.
Sarapan dulu, kak.” teriak Gita dari luar kamar.
Gita terus berteriak untuk
membangunkan Dyland. Gita mencoba membuka pintu tersebut, dan ternyata pintunya
tidak dikunci. Matanya langsung tertuju ke tempat tidur dan melihat kakaknya
yang merintih kesakitan. Lalu menanyakan apa yang terjadi.
“Kak, kakak kenapa?”
“Sakit banget, Git." tampak kedua tangannya memegang perutnya.
“Trus gimana kak?” tanya Gita.
“Papa...” teriak Gita.
“Ada apa teriak-teriak?”
sahut Papanya mendatangi kamar itu.
“Kakak sakit, Pa” jawab Gita.
“Hah? Yasudah, Papa bawa kak Dylan ke
rumah sakit sekarang. Gita sama Kak Putra bisa siapkan sarapan sendiri kan?”
kata Papanya sambil menopang pelan tubuh Dyland.
“Bisa, Pa.” Jawab Gita. Mereka sudah terbiasa mempersiapkan sarapan
sendiri, karena ibu mereka ditugaskan bekerja di luar kota.
***
Sepulang
dari sekolah, Gita melihat rumahnya sepi dan tidak ada seorang pun di sana. Ia
teriak-teriak, tetapi tidak ada yang menyahut. Lalu, Gita menelepon Putra. “Halo..Kak. Kakak dimana?” tanya
Gita.
“Kakak di rumah sakit,dek. Kami semua di rumah sakit. Dyland opname di
rumah sakit.” Jawab kakaknya.
“Hah? Masak sih kak? Gita ke sana ya kak.” Sambung
Gita sambil menutup teleponnya.
Sampai
di rumah sakit, Gina pun menangis melihat keadaan Dyland yang terbaring lesu di
tempat tidur. Mengingat Dyland juga pernah di rawat di rumah sakit karena
penyakit usus buntu. Dan ternyata, selama ini Dyland jarang makan malam
sehingga penyakit yang sama menyerang tubuh Dyland lagi.
“Haha kenapa loe dek? Datang-datang
nangis. Jangan nangis di depan kakak mu yang ganteng
ini dunk.” Ucap Dyland seakan-akan ia sehat.
Gita tetap saja menangis, ia tahu
Dyland berkata begitu agar ia tidak mengkhawatirkan keadaan Dyland.
“Jelek loe.. Masih aja kakak sok sehat.” Sambar Gita.
Esoknya,
orangtuanya dipanggil Dokter yang
merawat Dyland dan mengatakan Dyland harus dioperasi secepatnya. Lalu
orangtuanya pun menceritakan hal itu pada Dyland. Dan Dyland pun setuju untuk
dioperasi. Malamnya mereka sekeluarga berdoa agar operasi besok dapat berjalan
dengan lancar.
***
Tibalah saatnya Dyland dioperasi. Semua keluarganya
menunggunya di luar ruang operasi dan berharap kabar sukacita lah yang datang
nantinya. Setelah beberapa jam berlalu, selesai lah pengoperasian itu, dan doa
mereka terkabulkan. Operasinya berjalan dengan lancar.
Setelah operasi selesai, ia tidak sadarkan diri dan
mengigau memanggil-manggil nama orang-orang yang disayanginya. Berawal dari
keluarganya hingga pacar dan teman-temannya.
Beberapa hari kemudian, karena keadaannya sudah
mendingan, ia pun di pindahkan ke ruangan. Hari berganti hari, beberapa bulan
pun terlewati nampaknya luka bekas operasinya tidak sembuh juga. Sepertinya,
Rumah Sakit tempat Dyland di rawat tidak memberikan pelayanan yang kurang baik. Dan
tidak sabar lagi dengan rumah sakit tersebut, akhirnya Dyland pun dipindahkan
ke rumah sakit yang lain.
***
Nampaknya rumah sakit yang baru, membuatnya nyaman. Tak satu pun temannya mengetahui Dyland di
rawat di rumah sakit tak terkekuali pacarnya. Bukan karena teman-temannya cuek
padanya melainkan ia tidak mau teman-temannya tahu bahwa ia sedang sakit. Ia
tidak mau dianggap lemah.
Sampai pada suatu hari pacarnya mencoba menghubunginya,
tetapi yang mengangkat teleponnya bukanlah dia melainkan adiknya, Gita.
“Haloo..” kata Sinta
pacarnya.
“Halo.. Ni siapa ya?” kata
Gita
“Ni temannya Dyland. Dyland
nya ada?” jawab Sinta sambil menyembunyikan statusnya sebagai pacarnya Dyland.
“Ehmm... Kak Dyland sakit
kak. Sekarang di rawat di rumahsakit.”
“Apa?! Sejak kapan Dyland masuk
rumah sakit? Rumah sakit mana?” Tanya Sinta berulang-ulang.
“Udah lama kak. Nanti Gita sms
kan dimana rumah sakitnya kak.” Jawab Gina
“Oh, yaudah.. Sms kan sama
nomor kamarnya ya dek. Makasi dek.”
Kata Sinta
“Iya kak..” jawab Gita sambil
menutup telepon.
***
Siangnya, teman-teman dan pacarnya datang ke rumah sakit
itu dan melihat keadaan Dyland.
“Dyland, apa kabar loe? Kok
gak kasih kabar sih...” kata seorang temannya.
“Baik-baik aja aku loh.
Kenapa? Kalian kangen sama gue?” elak Dyland dengan mata berkaca-kaca.
“Ntah ni.. Dah jadi janda gue
selama loe gak ada.” Sambar Sinta manja.
“hahhaha.. Ada-ada aja loe
bebh..” kata Dyland sambil tertawa dengan teman-temannya.
Sejak mereka menjenguk
Dyland, semakin bertambahlah semangat Dyland untuk sembuh.
Dan beberapa hari kemudian,
Dyland pun pulih dari sakitnya dan sudah bisa pulang ke rumahnya.
***
“Horee...” teriak Gita.
“Kenapa loe? Gimana? Bisa
tadi loe jawab soalnya?” tanya Dyland kepada Gita yang sedang bergembira karena
bisa menjawab soal-soal UN.
“Bisa dunk kak. Hari pertama
aja bisa, apalagi hari selanjutnya. Ehmm.. kecil... hehe..” kata Gita sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
“Jiagh... sombong.. Bagus lah kalo gitu. Bagus-baguslah
jawab soal-soal UN-mu itu. Biar bisa buat mama bangga.” Kata Dyland
“Seep kak..”
***
Dyland kembali termenung dan melihat motor kesayangannya.
Lalu mendekatinya dan mencoba menghidupkannya. Kemudian, terlintas di kepalanya
ide ekstrem untuk mengendarai motornya itu. Waktu itu, kedua orangtuanya
sedang tidak di rumah, sedangkan Gita dan Putra sedang tidur siang. Tiba-tiba
Gita terbangun dan melarang Dyland agar tetap di rumah karena Gita tahu bahwa
kondisi Dyland belum sehat betul.
Tetapi Dyland tetap pada pendiriannya bahkan melarang
Gita untuk tidak bicara tentang hal ini kepada Putra. Gita hanya bisa terduduk
di kursi sambil memikirkan apa yang harus dikatakannya kepada Putra bila Putra
menyadari bahwa Dyland tidak ada di rumah.
Tak lama kemudian Putra bangun dari tidurnya. Dan
menanyakan keberadaan Dyland.
“Mana Dyland, Git?” tanya
Putra.
Gita hanya bisa diam. Lalu Putra langsung berlari ke garasi rumah mereka
dan melihat motornya sudah tidak ad lagi di sana.
“ARGGH... Bakalan dimarahi Bos nih gue.” Kata Putra kesal karena ia tidak dapat menjaga adiknya.
***
Beberapa
jam kemudian, terdengar suara motor dari luar. Ternyata Dyland sudah pulang ke
rumahnya.
“Dari mana aja loe? Dah merasa sehat?? Cari mati loe,
yah??! Jangan salahkan gue, kalau ada apa-apa samamu yah.” Kata-kata itu tidak
sengaja terlontar dari mulut Putra karena saking kesalnya pada Dyland.
Beberapa
hari kemudian, Dyland mengeluh kepada orangtuanya bahwa perutnya akhir-akhir ini sering sakit. Pada
saat itu pula, Putra tidak sengaja mendengar keluhan Dyland dan mengadukan
peristiwa kemarin kepada orangtuanya. Tetapi, orangtua mereka tidak dapat marah
karena hal itu sudah berlalu.
Lalu karena tak tahan
merasakan sakit, Dyland langsung dibawa ke rumah sakit. Dan sesampainya di
rumah sakit itu, ia hanya dapat menyesali semuanya dan menangisi dirinya. Dan
dirinya menjadi sangat sensitif, apabila seseorang melakukan kesalahan terhadap
dirinya.
***
Sepulang
dari les biola, Gita berinisiatif untuk ke rumah sakit. Gita melihat
kakaknya sedang termenung, sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
“Gimana keadaan kakak?” tanya
Gita.
Tetapi Dyland tidak menyahut.
“Kok diam aja sih? Tanya
Gita lagi.
Dyland mulai menjawab
pertanyaan Gita.
“Aku dah takut, Git.”
“Maksudnya?” Gita bingung.
Lalu seketika suasana menjadi
hening. Dan membuat Gita mengerti perkataan Dyland.
“Kakak harus semangat ya.” Ucap Gita dengan menahan air matanya.
“Hmm ya.. Git, kakak boleh
minta tolong gak?”
“Minta tolong apa, kak?”
tanya Gita lagi.
“Nyanyikan lagu Bukan Dengan
Barang Fana, Git.” Kata Dyland.
“Tapi
Gita gak hafal-hafal banget, kak. Tapi Gita coba
ya, kak.” Kata Gita sambil mencoba menyanyikannya dengan biolanya.
Suara Gita
yang begitu lembut dan suara alunan biola yang dimainkannya membawa Dyland pada
masa lampau. Ia teringat akan perbuatannya dan kesalahannya yang telah
dilakukannya kepada orang- orang terdekatnya. Ia menyadari perbuatannya itu
hanya bisa menyakiti mereka yang disayanginya.
Dan dengan nada yang pelan, Dyland mencoba ikut bernyanyi. Dan terlihat
keharuan diantara mereka berdua. Tanpa disadari mereka menangis bersama-sama.
Setelah capek menangis, akhirnya Dyland tertidur.
Malamnya,
Dyland tampak sedih saat membuka hp-nya. Sepertinya, Ia baru saja diputuskan
oleh pacarnya. Ia mencoba menghubungi pacarnya, tetapi tidak ada respon dari
sang pacar. Ia merasa Tuhan itu tak peduli lagi padanya dan engambil semua
darinya.
***
Esoknya, Dyland kembali menjalankan operasi
untuk ke sekian kalinya. Tetapi kali ini ia tidak bersemangat menjalaninya. Dan
tak satupun dari keluarganya mengantarkannya ke ruang operasi karena mereka
sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Hal itu juga yang membuatnya
bertambah sedih.
“Lengkaplah
sudah penderitaanku. Kenapa kau berikan semua ini kepadaku, Tuhan.. Jika kau mau, ambil saja aku, agar aku tidak merepotkan mereka lagi.” kata
Dyland dalam hatinya.
Malamnya setelah semuanya sudah
tidur. Dyland terbangun karena mendengar kedua orangtuanya membicarakan
sesuatu. Nampaknya mereka telah kehabisan uang untuk membiayai perawatan
Dyland. Mendengar itu semua, Dyland pun pasrah dengan keadaannya. Baginya dia
hanya merepotkan orang-orang di sekitarnya. Dan ia menyuruh orangtua agar dia
di suntik mati saja. Karena ia merasa sudah tidak ada gunanya lagi hidup di
dunia yang fana ini. Orangtuanya terkejut mendengar Dyland berkata seperti itu,
tetapi orangtuanya hanya bisa menyemangatinya.
***
Esoknya Gita terlihat gembira karena baru saja ia
mendapatkan surat yang menyatakan kelulusannya dan itu artinya akan lanjut ke
jenjang selanjutnya.
“Muda banget wajah mu hari ni,
Git. Lagi senang ya?” sindir Dyland.
“Iyee.. memang aku masih muda
ya. Aku baru aja dapat surat kak dan katanya aku lulus.” Kata Gita kegirangan.
“Iya? Masak sih Git? Selamat
ja ya buat Gita. Kakak ikut senang ya Git.”kata Dyland.
“Makasi ya atas ucapannya. Ehmm.. Gita harap kakak cepat
sembuh yah kak. Gita mau kakak lihat Gita pake baju putih abu-abu.”
“Amin... Mudah-mudahan ya
Git.”
Mereka
pun lama bincang-bincang tentang cita-cita yang ingin mereka raih. Siang
berganti menjadi sore dan sore pun menjadi malam. Malam itu, entah mengapa
mereka sekeluarga menangis namun tak saling tahu satu sama lain.
***
Esok
paginya, badan Dyland tidak dapat menerima segala infus. Padahal, hanya melalui
infus itu lah Dyland mendapatkan nutrisi. Lalu mereka berdoa bersama seperti
yang biasa mereka lakukan. Pada waktu itu Dyland tak dapat lagi mengucapkan doa
seperti biasanya dan ia merasa sesak di bagian dadanya. Tiba-tiba tangan dan
sekujur tubuhnya berubah menjadi dingin.
Lalu
ia menyuruh adiknya untuk membelikannya minuman kesukaannya. Mungkin ini
permintaannya untuk terakhir kalinya. Dan ia pun meminumnya. Baru kali ini ia
terlihat begitu menikmati minuman itu.
Tiba-tiba
ia merasa sesak di dadanya semakin terasa dan sudah tak tertahankan lagi. Lalu
ia segera dilarikan ke ruang I.C.U untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif.
Tetapi sudah terlambat, ketika sampai di I.C.U ia pun telah meninggalkan dunia
yang fana ini. Mungkin sudah waktunya Tuhan mengambilnya kembali dari
keluarganya. Jerit dan tangis terdengar dari ruangan itu. Mereka hanya bisa
menangis dan melihat garis lurus yang berada di mesin pendeteksi denyut
jantung.
Apalagi adiknya, Gita tidak
menyangka kakak yang disayanginya begitu cepat meninggalkannya. Sepertinya Gita
sangat terpukul, sehingga ia jatuh pingsan dan tak sadarkan diri.
Tak lama kemudian, tubuh yang pucat dan dingin itu dibawa
ke ruang mayat untuk dibersihkan agar dapat di bawa pulang. Di perjalanan ke
rumah, terdengar suara sirine yang sangat dibenci oleh sebagian orang. Putra
kasihan melihat adiknya, yang belum bisa menerima kenyataan. Dan ia teringat
akan janjinya pada Dyland. Sebelum Dyland meninggal, ia berbicara kepada Putra
agar Putra menjaga Gita. Karena ia tahu adiknya masih sangat polos.
Terlihat dari dalam mobil ambulans, sederetan orang
menggunakan pakaian hitam yang sudah berkumpul di rumahnya. Mulailah
berdatangan satu per satu papan bunga ucapan belasungkawa ke rumah keluarga
itu.
Esoknya tubuh yang kaku itu pun dimakamkan. Pemakaman itu
disertai banyak airmata dan angin yang seakan-akan memberontak atas kepergian
Dyland. Nampaknya perjuangan Dyland untuk hidup sangat menggugah perasaan
mereka semua. Mungkin ini memang kehendak Tuhan...